Topik
Fakta Penyakit Mata yang Jarang Diketahui Merasa Aman dari Penyakit Mata? Kapan Harus Melakukan Pemeriksaan Mata? ReferensiApa hal yang bisa membuat Anda bahagia? Berkumpul dan menyaksikan kehadiran orang-orang tercinta, melihat keindahan alam saat traveling, menikmati wisata kuliner bersama teman-teman, menikmati konser atau pertunjukan seru lainnya, dan masih banyak lagi. Namun bayangkan jika penglihatan kita terganggu akibat penyakit mata, dan tidak bisa menikmati itu semua. Kebahagiaan pun sirna, bukan?
Amat disayangkan bagaimana kebanyakan orang menganggap kesehatan mata sebagai hal yang sepele, sampai akhirnya mereka mulai mengalami gangguan penglihatan. Apalagi banyak jenis penyakit mata seperti katarak, glaukoma, dan degenerasi makula yang sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Inilah yang membuat penyakit-penyakit ini disebut sebagai silent thief of sight atau pencuri penglihatan secara diam-diam.
Salah satu alasan utama mengapa penyakit mata sering diabaikan adalah kurangnya pemahaman tentang pentingnya pemeriksaan mata rutin. Sebagian besar orang hanya pergi ke dokter mata saat gejala penyakit mata sudah parah, seperti penglihatan kabur atau rasa nyeri. Padahal, deteksi dini sangat penting untuk mencegah kerusakan permanen pada mata.
Apalagi, gaya hidup modern dengan paparan berlebihan terhadap layar digital zaman sekarang telah meningkatkan risiko penyakit mata, terutama sindrom mata kering. Banyak yang mengira ini hanya kelelahan biasa, tetapi jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi masalah kronis yang memengaruhi kualitas hidup.
Belum lagi faktor perubahan iklim dan lingkungan seperti polusi udara juga menambah andil pada menurunnya kesehatan mata. Partikel kecil dalam udara tercemar dapat menyebabkan iritasi pada permukaan mata dan meningkatkan risiko penyakit mata kronis seperti konjungtivitis. Meskipun menggunakan pelindung seperti kacamata saat berada di luar ruangan dapat membantu melindungi mata dari polutan, namun bahaya penyakit mata tetap bisa menyerang setiap orang.
Fakta Penyakit Mata yang Jarang Diketahui
Salah satu hal menarik pertama tentang mata yang mungkin belum Anda ketahui adalah bahwa mata manusia memiliki lebih dari dua juta bagian yang bekerja secara harmonis untuk memberikan penglihatan yang sempurna. Wow, bayangkan betapa rumit dan kompleksnya organ vital yang satu ini.
Kerumitan inilah yang justru membuat mata rentan terhadap berbagai penyakit. Salah satunya adalah keratokonus, suatu kondisi di mana kornea menjadi tipis dan berbentuk seperti kerucut, yang dapat menyebabkan penglihatan buram dan sensitivitas terhadap cahaya. Penyakit mata yang satu ini sering salah diagnosis sebagai rabun biasa.
Penyakit mata lainnya yang kurang dikenal adalah sindrom Charles Bonnet, di mana penderita dengan kehilangan penglihatan mengalami halusinasi visual. Meskipun terdengar menyeramkan, hal ini bukan tanda gangguan mental, melainkan respons otak terhadap kurangnya rangsangan visual. Kondisi ini menunjukkan betapa kompleksnya hubungan antara mata dan otak.
Ada juga penyakit mata yang disebut uveitis, yang merupakan peradangan pada lapisan tengah mata. Penyebabnya sering kali tidak diketahui, tetapi dapat terkait dengan gangguan autoimun atau infeksi. Jika tidak ditangani, uveitis dapat menyebabkan komplikasi serius seperti glaukoma atau katarak. Fakta menariknya, uveitis lebih sering terjadi pada orang muda dibandingkan lansia.
World Health Organization (WHO) pernah mengungkapkan dalam penelitiannya bahwa paparan sinar ultraviolet (UV) yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan pada lensa dan retina, meningkatkan risiko penyakit mata seperti katarak dan degenerasi makula. Menggunakan kacamata hitam dengan perlindungan UV adalah langkah sederhana namun efektif untuk mencegah dampak buruk ini.
Selain itu, ada pula penyakit mata yang diakibatkan oleh faktor genetik. Misalnya, glaukoma sudut tertutup lebih sering ditemukan pada populasi Asia dan memiliki komponen genetik yang kuat. Deteksi dini melalui pemeriksaan tekanan intraokular dapat membantu mencegah kehilangan penglihatan akibat glaukoma.
Tidak hanya genetik, faktor psikologis seperti stres kronis juga dapat memengaruhi kesehatan mata. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa stres dapat memicu peningkatan tekanan intraokular yang berisiko menyebabkan penyakit mata yang disebut glaukoma. Ini menunjukkan bahwa menjaga keseimbangan mental juga berdampak pada kesehatan mata.
Bahkan beberapa penyakit mata memiliki kaitan dengan kondisi kesehatan umum, seperti diabetes. Retinopati diabetik, misalnya, adalah komplikasi serius yang dapat menyebabkan kebutaan jika kadar gula darah tidak terkontrol. Oleh karena itu, menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan juga berdampak langsung pada kesehatan mata.
Merasa Aman dari Penyakit Mata?
Bersyukurlah untuk Anda yang masih memiliki mata sehat dan belum mengalami keluhan mata yang berarti. Untuk menjaga tetap sehat, lakukan pemeriksaan rutin dan kombinasi gaya hidup sehat. Mengonsumsi makanan kaya vitamin A, C, dan E, serta omega-3, dapat membantu menjaga kesehatan mata. Sayuran hijau seperti bayam dan kale, serta ikan berlemak seperti salmon, adalah sumber nutrisi yang baik untuk mata.
Selain pola makan, istirahat yang cukup untuk mata juga sangat penting. Dengan metode 20-20-20, Anda dapat mengurangi kelelahan mata akibat layar digital. Setiap 20 menit, alihkan pandangan Anda ke objek sejauh 20 kaki selama 20 detik. Kebiasaan sederhana ini dapat mencegah sindrom mata kering yang sering diabaikan, dan berbagai risiko penyakit mata lainnya.
Bagi Anda yang sudah memiliki risiko tinggi, seperti penderita diabetes, hipertensi, atau memiliki bawaan penyakit mata di keluarga, pengelolaan kondisi utama ini sangat penting untuk mencegah komplikasi pada mata. Retinopati diabetik, misalnya, dapat dicegah dengan menjaga kadar gula darah tetap stabil dan rutin memeriksakan mata.
Memang masih sangat diperlukan edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan mata, khususnya pemahaman tentang risiko paparan sinar biru dari perangkat digital, sinar UV, gaya hidup, hingga pentingnya penggunaan pelindung layar atau kacamata anti-sinar biru yang dapat membantu mengurangi dampak negatif penggunaan perangkat digital dalam jangka panjang.
Edukasi mengenai hasil riset tentang bahan makanan alami yang dapat melindungi mata juga diperlukan karena telah semakin berkembang, misalnya, senyawa lutein dan zeaxanthin yang ditemukan dalam sayuran hijau seperti kale dan bayam telah terbukti mampu melindungi retina dari kerusakan akibat radikal bebas.
Kapan Harus Melakukan Pemeriksaan Mata?
Pemeriksaan secara rutin bisa mencegah terjadinya penyakit mata yang serius. Namun mungkin Anda tidak yakin kapan benar-benar perlu menemui dokter spesialis mata untuk pemeriksaan.
Idealnya, setelah menginjak usia 20-30 tahun, sudah dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan mata walaupun Anda merasa memiliki penglihatan yang baik dan mata yang sehat. Tanyakan kepada dokter mata Anda tentang seberapa sering mata Anda harus diperiksa, apabila Anda memiliki riwayat penyakit mata dalam keluarga maupun riwayat diabetes.
Sedangkan untuk orang dewasa sekitar umur 40-an, lebih diharuskan untuk menjalani pemeriksaan yang lengkap. Hal ini dikarenakan pada saat itu tanda-tanda awal penyakit atau perubahan penglihatan muncul. Sangatlah penting untuk menemukan penyakit mata sejak dini. Lakukan identifikasi dan perawatan dini pada penyakit mata agar dapat membantu menjaga penglihatan anda.
Namun, kapan saja Anda merasakan keluhan seperti buram, cedera, nyeri mata, melihat adanya bintik-bintik melayang dan kilatan atau pola cahaya tiba-tiba, Anda harus mendatangi dokter mata sesegera mungkin. Begitu juga jika anda menggunakan lensa, temuilah dokter mata anda setiap tahun untuk mencegah penyakit mata.
Dalam dunia medis modern, pengobatan penyakit mata telah berkembang pesat. Misalnya, operasi katarak kini menggunakan teknologi canggih yang memungkinkan penggantian lensa mata dengan cepat dan minim rasa sakit. Dengan perkembangan ini, penderita katarak dapat kembali memiliki penglihatan jernih hanya dalam hitungan hari setelah prosedur.
Untuk penyakit glaukoma, pengobatan biasanya mencakup penggunaan obat tetes mata yang dirancang untuk menurunkan tekanan intraokular. Namun, pada kasus penyakit mata yang lebih parah, dokter dapat merekomendasikan prosedur bedah seperti trabekulektomi atau pemasangan implan drainase untuk mengurangi tekanan.
Pengobatan laser juga menjadi andalan untuk menangani beberapa penyakit mata lainnya. Sebagai contoh, retinopati diabetik dapat diatasi dengan fotokoagulasi laser, di mana sinar laser digunakan untuk menutup pembuluh darah yang bocor di retina. Metode ini telah terbukti efektif dalam mencegah kebutaan pada banyak pasien.
Di samping itu, teknologi terbaru seperti terapi gen sedang dieksplorasi untuk mengatasi gangguan genetik yang menyebabkan kebutaan, seperti retinitis pigmentosa. Terapi gen memberikan harapan baru bagi pasien dengan penyakit mata langka yang sebelumnya tidak memiliki pilihan pengobatan.
Pemakaian alat bantu visual juga menjadi solusi bagi mereka dengan gangguan penglihatan berat. Lensa kontak khusus, seperti scleral lens, dapat membantu penderita keratokonus mendapatkan penglihatan yang lebih baik. Selain itu, alat bantu seperti perangkat pembaca layar digital telah dirancang untuk membantu mereka yang memiliki gangguan penglihatan berat tetap produktif.
Jangan ragu untuk memeriksakan kondisi kesehatan mata Anda, terutama jika ada keluhan yang berulang. Buat janji temu dengan spesialis Oftalmologi Rumah Sakit IHH Healthcare Malaysia untuk melakukan diagnosis dini dan opsi perawatan terbaik untuk setiap gangguan dan penyakit mata Anda saat ini, atau bahkan yang mungkin berpotensi terjadi. Buat janji temu sekarang.
Referensi
https://www.aao.org/eye-health/tips-prevention/eye-exams-101
https://www.mayoclinic.org/symptoms/eye-pain/basics/definition/sym-20050744
https://www.webmd.com/eye-health/guide-chapter-common-eye-problems
https://www.nei.nih.gov/learn-about-eye-health/eye-conditions-and-diseases/diabetic-retinopathy
https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/14415-keratoconus
https://www.who.int/health-topics/ultraviolet-radiation#tab=tab_1
https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/glaucoma